Archive | October 2013

12 Para Sahabat dan Alim Yang Diyakini BERMIMPI dengan RASULULLAH SAW..

Oleh: takusahrisau

Atas amalan dan pengawalan diri yang ketat, sebilangan ulama dan para alim telah diberi keutamaan untuk bertemu Rasulullah saw di dalam mimpinya. Mimpi menemukan Rasulullah saw bukan sahaja diimpikan oleh para alim bahkan insan biasa juga tidak terkecuali memasang impian untuk melihat wajah berseri Rasulullah saw di alam mimpi. Para yang diberi keutamaan adalah mereka yang mengamalkan sunnah Rasulullah saw selain selawat kepada baginda secara berterusan. Amalan ini menjadi rutin para alim dan antara mereka menyarankannya kepada sesiapa yang ingin menemukan Rasulullah saw di alam mimpi.

Berikut adalah 12 orang sahabat dan para alim yang berkesempatan menemukan Rasulullah saw di alam mimpi semasa hayat mereka.

images

1. Mimpi Tentang Imam Bukhari Rah.a. Beliau adalah seorang imam terkemuka ahli hadits. Namanya adalah Muhammad bin Ismail Al Bukhari. Gelarnya adalah Amirul Mukminin fil Hadits yang artinya Pembesar Kaum Mukminin dalam ilmu hadits. Beliau mengarang kitab yang seluruhnya berisi hadits-hadits shahih. Beliau wafat pada tahun 256 H. Diriwayatkan dari Muhammad bin Yusuf Al Fibrari, ia berkata, ‘Aku mendengar Najm bin Fadhil, seorang ahlul ilmi berkata, “Aku bermimpi melihat nabi SAW keluar dari kota Masiti, sedangkan Muhammad bin Ismail Al Bukhari berada di belakangnya, dimana bila nabi SAW melangkahkan kakinya, Al Bukhari pun melakukan hal yang sama dan meletakkan kakinya di atas langkah nabi SAW dan mengikuti bekas langkahnya.”
Diriwayatkan dari Muhammad bin Muhammad bin Makki, ia berkata, “Aku mendengar Abdul Wahid bin Adam Ath-Thawwisi berkata, ‘Aku mimpi bertemu Rasulullah SAW dan sekelompok sahabatnya, beliau sedang berhenti di suatu tempat, maka aku mengucapkan salam dan beliau menjawabnya. Aku bertanya, ‘Kenapa engkau berhenti, Ya Rasulullah?’ Beliau menjawab, ‘Aku menunggu Muhammad bin Ismail Al Bukhari.’ Dan setelah beberapa hari datang berita kepadaku tentang wafatnya Al Bukhari. Setelah aku perhatikan, ia wafat pada waktu aku mimpi bertemu Rasululah SAW.”

2. Mimpi Utsman bin Affan r.a. Beliau adalah Khalifah Rasyidin, Pemimpin Kaum Muslimin yang mendapat petunjuk yang ketiga. beliau memiliki gelar Dzun Nurain karena menikahi dua putri nabi SAW yang salah satunya setelah yang lain meninggal. Beliau wafat pada tahun 35 H.Diriwayatkan dari Ummu Hilal binti Waki’, dari seorang istri Utsman, ia berkata, “Suatu kaum akan membunuhku.” Maka aku berkata, “Tidak, wahai Amirul Mukminin.” Kemudian beliau berkata, “Sesungguhnya aku bertemu Rasulullah SAW, Abu Bakar dan Umar di dalam mimpi. Maka mereka berkata, “Berbukalah bersama kami malam ini.” atau mereka mengatakan, “Sesungguhnya kamu akan berbuka bersama kami malam ini.” Diriwayatkan oleh Abdullah bin Salam, ia berkata, “Aku datang kepada Utsman untuk menyalaminya, sedangkan ia dalam keadaan dikepung. Aku masuk menemuinya, maka ia berkata, “Selamat datang wahai saudaraku. Aku melihat Rasulullah SAW tadi malam di pintu kecil ini. Ia berkata, “Pintu kecil itu ada di dalam rumah.” Maka beliau (nabi) berkata, “Wahai Utsman, apakah mereka telah mengepungmu?” Aku menjawab, “Ya.” Beliau bertanya lagi, “Apakah mereka telah membuatmu haus?” Aku menjawab, “Ya.” Maka beliau menuangkan cawan besar yang berisi air, kemudian aku meminumnya sampai kenyang, sampai-sampai aku merasakan dinginnya di antara dada dan pundakku. Dan beliau SAW berkata, “Jika kamu mau, berbukalah di rumah kami. Maka aku memilih berbuka di rumah beliau SAW. Maka kata Abdullah bin Salam, Utsman dibunuh pada hari itu. (Thabaqat Ibnu Saad & Tarikh, Ibnu Asakir).

3. Mimpi Umar bin Khattab r.a. Beliau adalah Pemimpin Kaum Muslimin setelah Sayyidina Abu Bakar Shiddiq wafat. Gelarnya adalah Al Faruq yang artinya pembeda antara yang haq dan yang bathil. Beliau wafat pada tahun 23 H. Diriwayatkan dari Umar bin Hamzah bin Abdullah, dari pamannya, Salim dari bapaknya, Umar berkata, “Aku melihat Rasulullah SAW di dalam mimpi, dimana aku melihat beliau sedangkan beliau tidak memandangku. Maka aku berkata, “Ya Rasulullah, kenapa aku?” Beliau bersabda, “Bukankah kamu yang mencium istrimu pada saat kamu berpuasa?!” Maka aku berkata, “Demi Yang Mengutusmu dengan kebenaran, aku tidak akan mencium istriku lagi setelah ini saat aku berpuasa.” (Al Mahalli, Ibnu Hazm).

4. Mimpi Ali bin Abi Thalib r.hum. Beliau adalah adik sepupu Rasulullah SAW sekaligus menantunya dan termasuk orang yang pertama masuk islam dari kalangan anak-anak. Beliau adalah Khalifah setelah terbunuhnya Utsman bin Affan. Julukannya adalah Abu Turab. Beliau wafat pada tahun 40 H setelah beberapa hari terluka karena tikaman Ibnu Muljam. Muhammad Sa’ad menceritakan sebuah riwayat dari Ali ra. Ali berkata, “Sesungguhnya aku pada malam itu (yaitu saat Ibnu Muljam membunuhnya pada pagi harinya) membangunkan keluargaku, kedua mataku menguasaiku hingga aku tertidur saat aku duduk. Maka aku melihat Rasulullah SAW. Dan aku bertanya, “Ya Rasulullah, kenapa aku menemukan di antara ummatmu orang-oran yang bengkok dan suka bertengkar?” Rasulullah SAW berkata, “Doakanlah atas mereka.” Maka aku berdoa,” Ya Allah, gantikanlah perlakuan mereka terhadapku dengan yang lebih baik bagiku. Dan gantikanlah yang lebih buruk untuk mereka.” (Thabaqatul Kubra & Al Manaamat, Ibnu Abi Dunya).

5. Mimpi Hasan bin Ali r.hum Beliau adalah cucu Rasulullah SAW serta pemuka para ahli surga. Beliau wafat sebagai syahid. Diriwayatkan oleh Filfilah Al Ja’fi, ia berkata, “Aku mendengar Hasan bin Ali ra. berkata, “Aku melihat nabi SAW bergelantung di atas Arsy, dan aku melihat Abu Bakar ra. memegang kedua pinggang nabi SAW serta melihat Umar ra. memegang kedua pinggang Abu Bakar ra. dan juga melihat Utsman ra. memegang pinggang Umar ra. serta melihat darah bercucuran dari langit ke bumi.” Maka Hasan menceritaka mimpi ini pada orang di sekelilingnya (kaum syi’ah), maka mereka bertanya, “Tidakkah kau melihat Ali?” Hasan menjawab, “Tidak seorang pun yang paling suka aku melihatnya memegang kedua pinggang nabi SAW daripada Ali. Akan tetapi ini adalah sebuah mimpi.” Dari Ishak bin Rabi’, ia berkata, “Ketika kami sedang di sisi Hasan, tiba-tiba datang seorang laki-laki seraya berkata, ‘Wahai Abu Said, sesungguhnya semalam aku melihat nabi SAW di dalam mimpi. Nabi SAW berada di tengah-tengah Murjiah Bani Salim dalam khalayak ramai, dan diatasnya jubah musim dingin, kemudian dikatakan kepadanya, ‘Wahai Rasulullah SAW, Hasan akan datang. Beliau bersabda, ‘Katakanlah kepadanya, beritakanlah kabar gembira, kemudian beritakanlah kabar gembira, kemudian beritakanlah kabar gembira.’ Maka mata Hasan bercucuran air mata, dan ia bersabda, ‘Semoga Allah menetapkan matamu. Rasulullah SAW bersabda, ‘Barangsiapa yang melihatku di dalam mimpi, maka ia sungguh telah melihatku, dan syetan tidak dapat menyerupaiku.’” (HR Thabrani & Al Manaamat, Ibnu Abi Dunya).

6. Mimpi Husein bin Ali r.hum Suatu hari Husein bin Ali sedang duduk di depan rumahnya sambil memeluk pedangnya. Ketika ia menundukkan kepalanya, saudarinya, Zainab binti Ali mendengar suara teriakan. Ia mendekati saudaranya, seraya berkata, “Wahai saudaraku, tidakkah kamu mendengar suara keributan telah mendekat?” Maka Husein mengangkat kepalanya dan berkata, “Sesungguhnya aku melihat Rasulullah SAW di dalam mimpiku dimana beliau berkata padaku: ‘Sesungguhnya kamu menuju kepada kami.’ Maka saudarinya itu menjadi bersedih dan berkata, “Alangkah celaka aku!” Maka Husein berkata, “Kamu tidak celaka, wahai saudariku, tempatkanlah kasih sayangmu dengan Allah Yang Maha Pemurah.”Tak lama, Husein gugur di padang Karbala. Seluruh keluarganya habis terbantai, kecuali seorang anaknya yang bernama Ali yang berhasil diselamatkan oleh Zainab. http://spupe07.files.wordpress.com/2012/02/muhammad.jpg?w=320&h=310 Ya Allah, Beri Kami Kekuatan untuk Menghidupkan Sunnah – Sunnah Beliau saw. !

7. Mimpi Abu Musa Al Asy’ari r.a. Beliau adalah salah seorang sahabat Rasulullah SAW dari suku Tamim. Beliau juga seorang ahli fikih dan qira’at. Diriwayatkan oleh Abu Musa , beliau berkata, “Aku melihat Rasulullah di dalam mimpi sedang berada di atas gunung. Di sampingnya Abu Bakar. Dan beliau (Rasulullah) sedang mengisyaratkan Umar untuk datang kepadanya.” Maka aku mengucapkan Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un, dan ternyata benar, Amirul Mukminin Umar bin Khattab wafat!” Ia (Abu Musa) ditanya, “Tidakkah kamu menulisnya (mimpi) itu kepada Umar?” Maka Abu Musa berkata, “Tidak selayaknya aku mengucapkan berbela sungkawa kepada Umar (karena Umar akan bertemu Rasulullah SAW).” (Ar Riyadhun Nudhrah fi Manaqibil Asyrah).

8. Mimpi Huzaimah bin Tsabit r.a. Beliau adalah seorang sahabat Rasulllah SAW. Ia diistimewakan karena kesaksiannya setara dengan kesaksian dua orang. Beliau termasuk di dalam pasukan Ali dan memperoleh kemuliaan syahid saat perang Shiffin. Diriwayatkan oleh Utsman bin Sahl bin Hanif dan Khuzaimah bin Tsabit, “Bahwa ia bermimpi mencium dahi nabi SAW. Kemudian ia mendatangi Rasulullah SAW lalu ia menceritakan mimpinya tersebut. Kemudian Rasulullah SAW mempersilahkannya, lalu ia pun mencium dahi Rasul.” (Musnad Imam Ahmad).

9. Mimpi Bilal bin Rabah r.a. Beliau adalah Muazzin di zaman Rasulullah SAW, termasuk golongan sahabat yang ikut dalm perang Badar. Nabi SAW telah bersaksi atas penetapannya sebagai ahli surga. Setelah Rasulullah SAW wafat, karena tak kuat menanggung kesedihan hati akan ingatannya kepada Rasulullah SAW, Bilal pindah ke negeri Syam. Bertahun kemudian Bilal melihat Rasulullah SAW di dalam mimpinya di negeri Syam. Rasulullah berkata, “Kenapa kamu berlaku tidak ramah, wahai Bilal? Bukankah kini telah datang waktunya bagimu untuk menziarahiku?” Maka Bilal bangun dalam keadaan bersedih dan langsung bergegas menuju kota Madinah. ia lalu mendatangi makam Rasulullah SAW dan disana ia menangis. Sayyidina Hasan dan Husein datang menghampirinya, kemudian Bilal memeluk keduanya. Maka Sayyidina Hasandan Husein berkata, “Kami sangat menginginkan engkau untuk azan di waktu sahur.” Maka demi takzimnya kepada kedua cucu Rasulullah SAW ia naik ke atap masjid. ketika ia menyerukan “Allahu Akbar Allahu Akbar” bergetarlah seluruh kota Madinah. Keluarlah para penduduknya berduyun-duyun ke masjid sambil menangis tersedu-sedu karena suara Bilal mengingatkan mereka pada kehidupan di zaman Rasul. Dan tidak pernah disaksikan hari yang lebih banyak laki-laki dan wanita menangis daripada hari itu. Seminggu kemudian Bilal wafat. (Asadul Ghabah, Ibnu Atsir).

10. Mimpi Abul Mawahib Asy-Syadzili r.a. Beliau memiliki nama lengkap Syaikh Muhammad Abul Mawahib Asy-Syadzili, murid dari Syaikh Abu Sa’id Ash-Shafrawi. Beliau adalah seorang ulama besar yang pernah mengajar di Universitas Al Azhar, Mesir. Beliau sering bermimpi berjumpa dengan Rasulullah saw. Beliau pernah menyatakan: Aku bermimpi melihat Rasulullah saw berada di lantai atas Universitas Al Azhar pada tahun 825 H, lalu beliau meletakkan tangannya di dadaku dan bersabda: “Wahai anakku, ghibah itu haram hukumnya. Tidakkah kau mendengar firman Allah SWT : Janganlah sebagian kamu membicarakan keburukan (ghibah) sebagian yang lain.” Sedangkan disampingku ada beberapa orang yang asyik membicarakan keburukan orang. Kemudian beliau bersabda kepadaku: “Jika kamu tak bisa menghindari untuk mendengar orang-orang berghibah, maka bacalah surat Al Ikhlash, Al Falaq dan An-Nas, lalu hadiahkanlah pahalanya kepada orang yang dighibah atau dibicarakan keburukannya itu, karena (mendengarkan) ghibah dan pahala dari bacaan tersebut berimbang.” Beliau menyatakan bahwa suatu hari beliau terlibat perdebatan di Universitas Al Azhar dengan seseorang atas pernyataan Qasidah Al Burdah karya Imam Bushiri: Famablaghul ilmi fihi annahu basyarun Wa annahu khairu khalqillahi kullihimi Puncak pengetahuan manusia tentangnya: ia adalah seorang manusia Tetapi sesungguhnya ia adalah makhluk Allah yang terbaik. Ia mengatakan kepadaku bahwa pernyataan ini tidak memiliki argumentasi. Aku sanggah pernyataannya dan aku katakan bahwa itu telah didasarkan pada ijma’ yang tak dapat dibantah. Tapi ia tetap tak mau menerimanya. Lalu setelah itu aku bermimpi melihat Rasulullah saw bersama Abu Bakar dan Umar sedang duduk di samping mimbar Universitas Al Azhar. Beliau bersabda menyambutku: “Selamat datang kekasih kami.” Kemudian beliau menoleh kepada para sahabatnya dan berkata: “Tahukah kalian apa yang telah terjadi hari ini?” “Kami tidak tahu, wahai Rasulullah,” jawab mereka. “Sesungguhnya si fulan yang celaka meyakini bahwa para malaikat lebih utama dariku.” Mereka menyanggah dengan serentak, “Itu tidak benar, wahai Rasulullah!” Lalu Nabi saw berkata kepada mereka: “Kasihan keadaan si fulan yang celaka itu, ia sebenarnya tidak hidup. Sekalipun hidup, ia hidup dalam keadaan ternista dan terhina. Namanya yang terhina membuatnya sempit dalam kehidupan dunia dan akhirat. Ia meyakini bahwa ijma’ tidak terjadi pada pengutamaanku di atas semua makhluk. Tidakkah ia tahu, bahwa pengingkaran Mu’tazilah kepada Ahlussunah tidak dapat merusak kredibilitas ijma’? Beliau juga pernah berkata, “Aku bermimpi melihat Rasulullah saw dan aku berkata kepada beliau: Wahai Rasulullah, Allah bershalawat sepuluh kali kepada orang yang membaca shalawat untukmu satu kali. Apakah itu bagi orang yang menghadirkan hati (khusyu’) dan perasaannya (ta’zhim)? Beliau menjawab: “Tidak. Itu berlaku bagi orang yang membaca shalawat untukku dalam keadaan lalai. Allah akan memberinya anugerah sebesar dan sebanyak gunung-gunung tinggi, yaitu para malaikat akan berdoa dan memohonkan ampun untuknya. Adapun kalau ia membacanya dengan menghadirkan hati (khusyu’) dan penuh rasa hormat (ta’zhim), maka nilai pahala dari bacaan itu tidak bisa dijabarkan kecuali oleh Allah.” Beliau berkata lagi: “Aku bermimpi melihat Rasulullah saw. Beliau bersabda kepadaku menjelaskan tentang diri beliau yang mulia: “Aku tidaklah mati. Kematian hanyalah sebuah ungkapan bagi ketersembunyianku dari orang yang tidak mendapatkan pemahaman dari Allah. Adapun bagi orang yang telah mendapatkan pemahaman dari Allah, maka inilah aku: aku bisa melihatnya dan ia bisa melihatku.” Beliau menerangkan, “Siapa yang ingin bermimpi Rasulullah saw, hendaklah ia memperbanyak bersalawat kepadanya siang dan malam, bersama cintanya kepada para Imam yang shalih dan para wali. Jika tidak begitu, maka pintu untuk masuk ke dalam mimpi itu akan ditutup, karena mereka adalah pemimpin manusia, sementara itu Tuhan kita akan murka karena kemurkaan mereka, demikian pula Rasulullah saw.” (Afdhalish Shalawat Ala Sayyidis Saadat, Yusuf An-Nabhani).

11. Mimpi Ahmad Ibnul Jalla’ Abu Abdullah Ahmad bin Yahya Al Jalla’, asli Baghdad dan pernah tinggal di Ramlah dan Damaskus. Ia termasuk tokoh besar dari kalangan syeikh sufi di Syam. Ia berguru pada Abu Turab, Dzunnun Al Mishri dan Abu Ubaid Al Bishri serta kepada ayahnya sendiri, Yahya Al Jalla’. Ia berkata, “Pada suatu ketika aku pergi mengembara melintasi gurun dengan bekal yang seadanya. Sampai di kota Madinah, aku telah tidak memiliki apa pun. Aku lalu mendekati makam Rasulullah SAW, lalu berkata, ‘Aku adalah tamu anda, wahai Rasulullah!’ Tiba-tiba aku dilanda kantuk sehingga aku tertidur. Saat tertidur itu aku bermimpi bertemu nabi SAW dan beliau memberiku roti. Roti itu kumakan separuhnya, selanjutnya aku bangun. Ternyata separuh roti yang belum kumakan masih ada di tanganku.”

12.Mimpi Al Fasawi Ia adalah ulama hadits yang bernama Abu Yusuf Ya’kub bin Sufyan Al Fasawi. Beliau pengarang kitab At-Tarikh dan Al-Masyikhah yang wafat di tahun 277 H. Diriwayatkan dari Muhammad bin Yazid Atthar, Aku mendengar Ya’kub Al Fasawi berkata, “Aku banyak menyalin hadits di malam hari. Karena kebutuhan makin banyak, dengan terburu-buru aku menulisnya hingga larut malam sehingga mengakibatkan mataku berair dan tak dapat melihat. Hal itu membuatku bersedih, karena hilangnya ilmu dariku dan aku menjadi terasing dari sekitarku. Aku menangis hingga tertidur. Lalu aku bertemu Rasulullah SAW dimana beliau memanggilku: ‘Wahai Ya’kub, kenapa kamu menangis?’ Akumenjawab, “Ya Rasulullah, penglihatanku hilang, sehingga aku sedih tak bisa menulis sunah-sunahmu lagi dan aku terasing dari sekitarku.” Beliau bersabda, ‘Mendekatlah padaku.’ Maka aku lalu mendekat kepadanya. Lalu beliau mengusapkan tangannya di atas mataku seakan-akan membacakan atas keduanya. Kemudian aku terbangun dan aku dapat melihat, lalu aku mengambil tulisanku dan duduk di depan lampu untuk meneruskannya.” (Tarikhul Islam)

– Banyakkan salawat kepada junjungan besar Rasulullah saw..

Advertisements

Misteri Mumia dijumpai di China.. Dipercayai berusia 300 tahun..

Oleh: takusahrisau

 

Tiga mumia telah dijumpai oleh arkeologi China di kawasan pembinaan di Xiangcheng, Henan Province, tengah China. Ia digali keluar daripada lubang sedalam 2 meter pada 10 Oktober. Ketika dijumpai, mumia tersebut masih dalam keadaan baik namun selang sejam terdedah kepada cuaca, dua mumia tersebut beransur-ansur mengering dan menampakkan tulang serta mengeluarkan bau kurang enak. Manakala satu mumia yang lain berubah kulitnya kepada hitam. Beberapa pemeriksaan pakar menunjukkan petanda bahawa mumia-mumia ini berusia 300 tahun dan kemungkinan besar sezaman dengan pemerintahan Dinasti Qing(1644-1912).

article-2460931-18BFC6EE00000578-629_634x825

article-2460931-18BFC6FE00000578-445_306x423

Berdasarkan kepada pakaian mewah mumia tersebut, besar kemungkinan mumia tersebut adalah salah seorang pegawai kerajaan Dinasti Qing. Pakar daripada Amerika Syarikat, Lucas Nickel memberitahu bahawa pengawetan mumia di China bukan secara buatan manusia tetapi lebih menjurus kepada keadaan mumia tersebut ditanam. Dengan kata yang lain, ia disebabkan oleh bagaimana mumia tersebut dan kawasan mana ia dikebumikan. Dalam kes mumia ini, ia didakwa berlaku pengawetan kepada udara dan kelembapan tidak mampu untuk memasuki keranda tebal yang ditutupi dengan arang batu.

article-2460931-18BFC6FA00000578-187_634x767

Dakwaan daripada Prof Dong daripada China mengesyaki keluarga mumia ini memasukkan sejenis bahan pengawet ke dalam badan mumia tersebut dan bilamana ia terdedah kepada udara, jasad mumia tersebut akan mula merosak dan hilang daya pengawetan.

Walaubagaimanapun, keadaan mumia ini sememangnya misteri. Pakaian dan keseluruhan yang berkaitan dengan mumia ini tidak terjejas walau sedikit. Pakaiannya kelihatan seperti baru dikebumikan sebulan. Tiada kesan koyak, Kasut yang dipakainya semasa dikebumikan masih elok dan tidak terjejas.

 

Kekuatan Turki dan kisah disebaliknya..

Oleh: takusahrisau

 

Bangsa Turki pernah bangkit sebagai kuasa besar paling utama pada abad ke-15 dan berterusan sehingga kejatuhan empayarnya sekitar abad ke-19. Pengaruhnya menjangkaui sehingga ke Eropah apabila beberapa wilayah di bawah naugannya berada di timur Eropah.

Bangsa Turki yang menerajui empayar Othmaniyyah sangat terkesan di hati setiap umat Islam. Bukan untuk menidakkan keagungan empayar Islam yang lain seperti Ummayyah, Abbasiyyah, Mamluk, Fatimiyyah dan lain-lain namun empayar Turki Othmaniyyah mempunyai satu-satunya pemimpin yang diramalkan oleh junjungan besar, Rasulullah saw di hadis kursinya.

Pemimpin yang dimaksudkan adalah Muhammad atau lebih dikenali Sultan Muhammad al-Fatih. Gelaran al-Fatih yang membawa maksud ‘Si Pembuka’ merujuk kepada peranan besarnya membuka dan menakluk kota Konstatinopel.

Penaklukan kota utama umat Kristian sekitar kurun ke-15 itu adalah sumbangan Sultan Muhammad al-Fatih yang tiada tolak bandingnya. Sehingga ke hari ini kota tersebut masih lagi di bawah genggaman umat Islam yang berada di bawah naugan kerajaan Turki sekarang. Detik bersejarah tersebut yang berlaku pada 1453 masihi menandakan berakhirnya kerajaan Kristian Byzantine Timur yang berpusat di kota Konstatinopel.

Siapa bangsa Turki sebenarnya?

Bangsa Turki disifatkan oleh pakar-pakar Sirah Islam sebagai bangsa yang berasal daripada anak nabi Nuh as, Yafit. Diriwayatkan, Nabi Nuh as mempunyai tiga oleh anak lelaki iaitu Sam, Yafit dan Ham.

Sam menurunkan ras bangsa Semitik yang berkulit keputihan seperti Arab, Parsi, Syria, Yunani, Latin(Sepanyol) dan di sebelah Barat dunia. Daripada anak-pinak Sam lahir ramai Rasul dan Nabi. Dikisahkan bahawa pada zaman Nabi Isa as, berkat mukjizat baginda, Sam telah dibangkitkan daripada kuburnya dan sempat menceritakan peri sakitnya kematian.

Ham menurunkan bangsa berkulit hitam seperti bangsa yang kebanyakan mendiami benua Afrika. Di dalam kitab Perjanjian Lama(Old Tastement), Ham telah dilaknat oleh Nabi Nuh as  dan kisah tersebut dikenali sebagai Ham’s Curse. Laknat Nabi Nuh as yang kononnya diberitakan dalam kitab Perjanjian Lama tersebut antara lain melaknat keturunan Ham dan anak pinaknya bakal menjadi hamba kepada anak-pinak Sam dan Yafit.

Yafit pula menurunkan ras bangsa berkulit kulit langsat seperti Cina, Mongoloid, Russia dan beberapa bangsa di sebelah Timur dunia. Anak-pinak Yafit mempunyai sifat dan semangat suka berperang yang tinggi. Kebanyakan yang lahir daripada suku Yafit adalah sang penakluk hebat. Lihat saja bangsa Cina, Mongol dan juga Russia.

Daripada genetik Yafit ini sebenarnya lahir bangsa Turki. Turki sepertimana bangsa-bangsa suku Yafit yang lain suka berperang dan menakluk. Daripada Yafit juga lahir bangsa yang cukup terkenal kejamnya dan diramalkan oleh Rasulullah saw dalam banyak hadis kursinya. Bangsa tersebut tidak lain dan tidak bukan adalah bangsa Ya’juk dan Ma’juk.

Ya’juk dan Ma’juk mempunyai beberapa gelaran lain. Bangsa Cina mengelar mereka Xiongnu, Yunani pula mengelar mereka sebagai Sos dan bangsa Barat mengelar mereka sebagai bangsa Sychtia atau Simmeria. Dalam tradisi masyarakat Kristian juga mengenali bangsa Ya’juk dan Ma’juk sebagai Gog dan Magog.

Dariialsk_ravine_(A)

Sebuah kawasan pergunungan di Darius Gorge yang diyakini sebagai tempat tembok Zulkarnain dibina.

 

Kaitan Ya’juk dan Ma’juk dan Turki

Antara kedua-dua bangsa iaitu Ya’juk dan Ma’juk dan bangsa Turki, terdapat cerita di yang berkait. Umumnya, bangsa Ya’juk dan Ma’juk adalah bangsa yang ganas dan suka membuat kerosakan.

Mereka muncul membawa kerosakan pada dunia. Ia diberitakan oleh Allah swt di dalam al-Quran dalam surah al-Kahfi;

Mereka berkata: “Hai Zulkarnain, sesungguhnya Ya’juj dan Ma’juj itu orang-orang yang membuat kerosakan di muka bumi, maka dapatkah kami memberikan sesuatu pembayaran kepadamu, supaya kamu membuat dinding antara kami dan mereka?”

Mereka menguasai dunia, bahkan tiada apa yang mampu mengalah dan menumpaskan mereka. Rasulullah saw bersabda bahawa ketikamana Ya’juk dan Ma’juk bermaharajalela di muka bumi, Allah swt mematikan mereka dengan mengirimkan satu wabak di mana ulat-ulat memakan belakang badan mereka sehingga tiada apa yang mampu diselamatkan. Begitu hebat dan ganasnya perilaku bangsa terkutuk ini.

Namun apakah saling perkaitan antara bangsa Turki dengan Ya’juk dan Ma’juk?

Diriwayatkan bahawa ketika ekspedisi Zulkarnain yang memerangi kaum Ya’juk dan Ma’juk di tempat yang disifatkan Allah sebagai ‘di antara dua buah gunung’ dalam surah al-Kahfi ayat 93, kaum terkutuk tersebut terperangkap di antara gunung-gunung tersebut. Lalu dengan bantuan masyarakat tempatan, Zulkarnain dan bala tenteranya mengurung Ya’juk dan Ma’juk dengan tembok besi bersadur tembaga berkat dengan rahmat daripada Allah swt. Ya’juk dan Ma’juk tidak akan berjaya menembusi tembok tersebut dan kekal terkurung di dalamnya sehingga tiba masa yang ditetapkan Allah swt.

Ekspedisi tersebut ternyata berjaya. Namun, ketika pertempuran tersebut terdapat saki-baki daripada mereka yang berjaya ‘melepaskan diri’. Bangsa tersebut adalah bangsa Turki.

Istilah Turki adalah berasal daripada perkataan ‘Taraka’ atau ‘Turika’ yang membawa maksud ‘meninggalkan’ atau ‘ditinggalkan’. Boleh jadi, asal asbab istilah Turki yang dinisbatkan kepada bangsa Turki adalah kerana kisah saki baki bangsa Ya’juk dan Ma’juk yang berjaya berlepas diri.

Dalam satu kajian lain, antara suku yang berjaya melarikan diri daripada serangan bertali arus tentera Zulkarnain adalah suku Mongol yang mana kemudiannya mendiami Gurun Gobi dan Steppe di Mongolia. Mongol sepertimana ‘moyangnya’ dilahirkan sebagai bangsa yang ganas. Perang tiada etika sehingga memusnahkan beberapa tamadun agung di dunia. Antara yang menjadi mangsa kerakusan suku Mongol adalah Dinasti Abbasiyyah. Baghdad yang dilanggar oleh suku Mongol telah hancur luluh dan rebah menyembah bumi. Kejatuhan Baghdad di tangan Mongol menyebabkan kota tersebut hilang fungsi sebagai pusat tamadun dan perabadan dunia. Ironinya sehingga kini kota tersebut gagal bangkit seperti yang berlaku pada zaman keemasannya.

Rasulullah saw menyedari potensi Turki

Dalam satu hadis, Rasulullah saw bersabda;

Tinggalkan Turki selama mana mereka tinggalkan kalian’

Hadis ini memberi gambaran bahawa Turki patut diberi keistimewaan berbanding lain-lain bangsa kerana bangsa ini seakan-akan diberi gambaran bahawa ia dielakkan untuk diperangi bahkan memberi mereka ruang untuk berlepas diri.

Ekspedisi dakwah Islam ke atas lain-lain bangsa bermula seawal zaman Rasulullah saw di mana Rasulullah saw mula mengirimkan risalah dakwah kepada beberapa Raja di negara jiran baginda. Antara yang mendapat risalah tersebut adalah Hercules daripada Byzantine dan Kisra Khusraw daripada Parsi Sasanid. Hercules miskipun diriwayatkan tidak menerima Islam tetapi melayan duta Rasulullah saw dengan baik. Namun, berlainan dengan reaksi Kisra apabila mengoyak risalah Rasulullah saw sehingga menguris hati baginda Nabi saw.

Apabila Rasulullaw saw wafat dan diganti dengan sistem khalifah, ekspedisi dakwah rancak berjalan. Beberapa wilayah dan tamadun besar berjaya ditawan. Antaranya adalah Mesir oleh Amr bin As. Syria dan Parsi pula oleh Saad bin Abi Waqqas, Khalid al-Walid dan Ubaidah ibn Jarrah.

Namun, bangsa Turki tetap diberi kelonggaran dan antara yang pertama menjalinkan hubungan dengan Turki adalah Saidina Uthman bin Affan. Saidina Uthman menyeru mereka kepada Islam dan berpusu-pusu mereka memeluk Islam. Berkat keislaman mereka di zaman khulafa ar-Rashidin dan para tabiin, mereka menjadi muslim yang berpegang kuat kepada ajaran Islam.

Bangsa Turki pada masa itu kebanyakannya berasal daripada kawasan pergunungan Turkistan dan dataran Steppe. Menjelang abad ke-8 Masihi, mereka berhijrah ke arah Barat melalui dataran tinggi Serbia menuju ke laut Arab dan sebahagian pula ke wilayah Russia.

Ketika Mongol berkuasa dan menjarah banyak tempat di Asia Tengah, beribu-ribu bangsa Turki sekali lagi mengalami  pengasingan apabila mereka terpaksa berhijrah ke negeri-negeri jiran mereka. Semasa pemerintahan Dinasti Abbasiyyah, bangsa Turki sangat taat kepada penguasa di Turkistan. Mereka mendapat layanan yang baik daripada pemerintah Dinasti Abbasiyyah terutama semasa pemerintahan Al-Mustashim.

Dek kerana Al-Mustashim berfahaman Muktazillah dan banyak menzalimi ulama ahli Sunnah, maka pemerintahan Al-Mustashim banyak berlaku pemberontakan. Oleh itu, Al-Mustashim mengalihkan pusat pemerintahan ke Samarra.Di sana, Al-Mustashim lebih menggemari pegawai berbangsa Turki berbanding Arab kerana curiga dengan kesetiaan bangsa Arab iaitu bangsanya sendiri kepadanya. Bermula daripada detik itu, bangsa Turki mula mendapat kekuatan terutama daripada segi politik.

Banyak pegawai dan panglima Turki berperang di sempadan Byzantine bagi menjaga wilayah Abbasiyyah. Lama-kelamaan, bangsa Turki membentuk kekuasaan di sempadan yang pada mulanya taat setia kepada Dinasti Abbasiyyah. Apabila Dinasti Abbasiyyah runtuh, mereka muncul membentuk komuniti yang berpaksikan militari di sempadan.

Maka disitu bermulalah era Bani Saljuk yang mana pemerintah pertamanya adalah Sultan Arp Arslan. Mereka memiliki semangat jihad yang tinggi, bervisi jauh dan ingin melihat Islam tertegak di merata ceruk.

Mereka bangga menggelar mereka ‘Ghazi’ yang membawa maksud ‘orang yang suka berperang’. Sememangnya mereka gemar berperang atas dasar jihad dan tidak sesekali goyang berhadapan musuh.

Di satu sisi yang lain pula, lahir pula sebuah Dinasti yang lebih agung yang berbangsa Turki. Ia adalah dinasti Othmaniyyah yang diasaskan sekitar abad ke-13. Dinasti ini bermula daripada seorang lelaki yang bernama Ertugrul. Ertugrul dikatakan berhijrah daripada tanah airnya ke Asia Minor bersama-sama 400 tentera berkudanya. Di sana, beliau bergabung dengan Kesultanan Saljuk untuk memerangi empayar Rom Byzantine.

Gabungan kedua-dua tentera Islam tersebut membuahkan hasil dan mencapai kemenangan. Atas jasa Ertugrul, sebuah wilayah di Eskisehir dihadiahkan kepada beliau. Kemudian, anak kepada Ertugrul iaitu Osman I yang bercita-cita tinggi mendirikan sebuah empayar yang dikenali sebagai Dinasti Othmaniyyah. Empayar Othmaniyyah menenggelamkan beberapa empayar Islam yang lain sehingga pada satu peringkat empayar ini mencapai keluasan yang mencecah ke sempadan Eropah. Beberapa sultan dan panglima agung bangkit daripada empayar bangsa Turki ini.

ERTUĞRUL-GAZİ3 

Sultan Muhammad al-Fatih yang mendapat sanjungan Rasulullah saw kerana berjaya membuka kota Konstatinopel lahir di dalam kelompak Bani Othmaniyyah. Ironinya, inilah bangsa yang dikatakan serpihan Ya’juk dan Ma’juk daripada sulur galur Yafit. Inilah hikmah yang mana Allah swt adalah juru-aturnya. Lihat bagaimana Allah swt memberi kekuasaan kepada siapa yang Dia suka. Islam bukan terletak di tangan bangsa Arab bahkan kepada sesiapa sahaja. Bangsa Turki menunjukkan kepada kita bahawa mereka boleh dijadikan satu tanda aras kepada kekuatan kesultanan Islam.

%d bloggers like this: